Shin Tae-Yong Kritik Liga 1 Indonesia

0
45

Debatbola.com – Liga 1 Indonesia sepertinya tidak akan pernah lepas dari kritikan baik dari supporter maupun dari pihak yang baru mengenal Liga teratas Indonesia ini. Termasuk juga Shin Tae-Yong yang hampir 3 tahun ini melatih Timnas Indonesia. Berbagai kritik dan juga keluhan disampaikan oleh pelatih asal Korea Selatan itu.

Kali ini, Shin Tae-Yong kembali mengkritik Liga 1 yang dianggap terlalu lemah dan memiliki banyak kekurangan. Situasi tersebut tentu saja membuat Shin Tae-Yong kesulitan terutama untuk menemukan pemain yang berkualitas. Rupanya Shin Tae-Yong bukan satu-satunya pelatih yang melayangkan kritik untuk Liga 1 baru-baru ini.

Kritik Kualitas Liga 1

Semenjak dilatih oleh Shin Tae-Yong, Timnas Indonesia sudah menunjukkan progress yang cukup signifikan. Namun rupanya untuk mencapai hal tersebut banyak sekali kesulitan yang dihadapi oleh Shin Tae-Yong. Karena hal itulah pelatih asal Korea Selatan itu mengkritik pelaksanaan Liga 1 di Indonesia.

Sebelumnya, Shin Tae-Yong juga mengeluh karena kesulitan mencari striker berbakat di Indonesia. Regulasi Liga 1 yang mengijinkan klub-klub memakai striker asing dinilai menjadi penyebab utama dari kesulitan tersebut. Akhirnya Shin Tae-Yong menyarankan klub Liga 1 untuk memakai striker lokal demi Timnas menjadi semakin kuat.

Kini Shin Tae-Yong kembali mengeluarkan kritikannya terhadap pelaksanaan Liga 1 di Indonesia. Menurut pelatih berusia 52 tahun itu, pelaksanaan Liga teratas Indonesia belum maksimal. Bahkan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dari kedua liga itu.

Kritikan tersebut dikeluarkan lantaran Shin Tae-Yong ingin membuat Timnas Indonesia semakin kuat. Jika Liga 1 berkualitas, maka standarisasi terhadap Timnas Indonesia juga mudah dilakukan. Pasalnya atmosfer pertandingan di Liga 1 memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap performa pemain ketika dipanggil oleh Timnas.

Shin Tae-Yong berpendapat, jika ingin memiliki Timnas yang kuat maka harus menguatkan Liga 1 terlebih dahulu. Untuk bisa mencapai hal tersebut, peran dari operator Liga tentu adalah hal yang sangat penting. Kerja keras serta visi yang baik akan menentukan kualitas dari Liga Indonesia.

Kekurangan Utama Liga Indonesia

Shin Tae-Yong mengatakan, kekurangan utama dari Liga di Indonesia yaitu porsi latihan fisik yang masih sangat kurang. Hal tersebut terlihat oleh pelatih asal Korea Selatan itu ketika menonton pertandingan Liga Indonesia. Kurangnya latihan fisik membuat pemain menjadi cepat lelah terutama ketika mengikuti latihan bersama Timnas.

Untuk membuat liga menjadi kuat, syarat utama yaitu fisik pemain juga harus kuat disertai tempo permainan yang cepat. Belum lagi jika dipanggil oleh Timnas yang pastinya tempo pertandingannya mengikuti Internasional. Tempo pertandingan itulah yang selama sangat sulit untuk diikuti oleh Timnas Indonesia.

Belum lagi, sebagian besar para pemain Timnas mengeluh capek selama digembleng oleh Shin Tae-Yong. Untuk pemain yang baru dipanggil juga akan mengeluhkan jika latihan yang diberikan oleh pelatih asal Korea Selatan itu sangat berat untuk diikuti. Hal tersebut dikarenakan para pemain kekurangan latihan fisik oleh klubnya.

Shin Tae-Yong juga mengatakan kepada PT. LIB untuk tidak menganggap kritikannya itu berupa teguran. Pasalnya Shin Tae-Yong juga ingin Timnas Indonesia menjadi lebih kuat melalui Liga yang juga kuat. Dengan begitu, persepakbolaan Indonesia akan semakin maju lagi.

Thomas Doll Lakukan Hal Yang Sama

Liga 1 bukan hanya dikritik oleh Shin Tae-Yong saja selaku pelatih yang bertanggung jawab oleh Timnas. Thomas Doll yang baru datang ke Liga 1 sebagai pelatih Persija juga langsung memberikan kritikan. Namun bagian yang dikritik oleh Thomas Doll sedikit berbeda dengan Shin Tae-Yong.

Sebagai pelatih, Thomas Doll ikut menemani pemain Persija melakoni kompetisi Piala Presiden di Samarinda. Selama pertandingan tersebut, Thomas Doll mengkritik lapangan yang digunakan untuk latihan. Menurut sang pelatih, lapangan tersebut sangat jauh dari standart dan bahkan dijadikan lapangan ternak jika di Jerman.

Sebelumnya, Thomas Doll juga keheranan dengan klub-klub Liga 1 yang menganggap turnamen pramusim seperti kompetisi yang sesungguhnya. Padahal seharusnya pramusim bisa digunakan untuk persiapan musim baru atau menjajal kekuatan klub lain. Belum lagi padatnya jadwal yang sangat jauh dengan turnamen pramusim di luar negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here