PSSI Ditagih Utang Rp 672 Miliar oleh Perusahaan Belgia

0
56

Debatbola.com – PSSI dilaporkan ke pengadilan oleh salah satu perusahaan Belgia, Target Eleven. Hal ini terkait kesepakatan kerjasama antar keduanya, dimana Target Eleven meminta PSSI untuk membayar hutangnya. Melalui pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), Target Eleven meminta supaya PSSI untuk melunasi utang sebanyak 47 juta dollar AS atau setara dengan Rp 672 Miliar.

Target Eleven merupakan agensi yang bergerak di bidang olahraga, pemasaran olahraga dan nasehat hukum yang berkantor di Brussel, Belgia. Keduanya diberitakan telah menjalin kerjasama pada tahun 2013 silam guna mengembangkan kompetisi di Indonesia yang kala itu sedang buruk. Melalui pernyataan Sekjen PSSI, Yunus Nusi pihaknya sendiri berencana menyelesaikan kasus utang yang melibatkan badan sepakbola tertinggi di Indonesia ini.

Awal Mula PSSI Utang ke Perusahaan Belgia

Target Eleven yang didampingi oleh mantan presiden Premier League Sir David Richard datang ke Indonesia pada tahun 2013. Kala itu persepakbolaan Indonesia sedang mengalami dualisme kepemimpinan. Kerjasama yang dilakukan dengan Target Eleven terkait peningkatan profesionalisme sepakbola Indonesia. Pihak Target Eleven melakukan diskusi dengan perwakilan dari PSSI dan pemerintah. Hingga akhirnya mereka melakukan kesepakatan pada bulan Juni tahun yang sama.

Selama bertahun-tahun Target Eleven mengembangkan proyek yang telah disepakati. Akan tetapi mereka tidak pernah mendapat bayaran sesuai dengan perjanjian awal yang dilakukan. Hingga pada akhirnya Target Eleven mengadukan kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne. Pada beberapa kesempatan PSSI menyatakan ketersediaannya untuk menyelesaikan secara damai.

Pihak PSSI terkesan mengulur-ulur waktu, hingga pada puncaknya Target Eleven kehilangan kepercayaan sehingga melakukan pengaduan kembali ke pengadilan pada 23 Februari 2022. Menurut mereka PSSI tidak bertanggung jawab akan kasus ini. Target Eleven telah menunjuk Arbiter dan memberikan PSSI tenggang waktu hingga 21 Maret untuk melakukan hal yang sama. Jika PSSI tidak melakukannya maka ketua pengadilan yang akan mengurus sengketa ini.

Luka Lama yang Kembali Muncul

Munculnya dugaan utang sebesar 672 Miliar ini mengingatkan kita pada luka lama sepakbola Indonesia. Pasalnya, kasus ini terjadi pada tahun 2013 yang kala itu sepakbola Indonesia mengalami dualisme kompetisi yang dilakukan oleh PT. LPIS. PSSI sempat mengalami dualisme kompetisi saat dipimpin oleh Djohar Arifin Husein. Kala itu Indonesia memiliki 2 kompetisi resmi LPI dan ISL 2013.

Hadirnya LPI yang digagas oleh Arifin Panigoro kala itu merupakan bentuk kekecewaan terhadap PSSI dan keinginan beberapa pihak untuk menciptakan kompetisi yang lebih kompetitif dan profesional. Namun, akibat adanya dualisme kompetisi ini menyebabkan konflik yang berkepanjangan hingga pada akhirnya keduanya melebur pada 2014 sebelum akhirnya PSSI mendapat sanksi dari FIFA akibat kisruh dalam tubuh PSSI dan campur tangan pemerintah.

Jawaban PSSI

PSSI Akhirnya Angkat suara terkait masalah utang ini. Pihaknya menegaskan jika tidak mengetahui secara persis terkait kerjasama ini yang dilakukan dengan Target Eleven. Menurut Sekjen PSSI Yunus Nusi, pengurus federasi saat ini tidak tahu perihal hutang sebanyak 672 Miliar tersebut. Saat ini melalui Komite Hukum sedang mendalami kasus tersebut.

Yunus Nusi berjanji akan segera menyelesaikan kasus ini. Akan tetapi dia juga mempertanyakan terkait sikap Target Eleven yang tidak melibatkan PT. LPIS yang notabene pihak yang terlibat dalam kesepakatan tersebut. Menurutnya ketidaktahuan PSSI akan kasus ini karena saat itu LPI (Liga Primer Indonesia) merupakan pihak yang terlibat secara langsung. Hingga 14 Maret 2022, jumlah utang PSSI kepada Target Eleven adalah USD 47.141.293,38. Terkait kabar selengkapnya PSSI masih menunggu hasil dari Komite Hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here