Luka Jovic yang Lupa Daratan

Debatbola.com – Karier Luka Jovic tampaknya meroket terlalu cepat. Pemain berusia 22 tahun itu seperti tak siap untuk menjalani kariernya dengan profesional dan hanya fokus terhadap penampilannya di lapangan.

Luka Jovic saat ini membela raksasa Spanyol, Real Madrid. Pada musim panas 2019 lalu, pemain asal Serbia ini direkrut dari Eintracht Frankfurt dengan nilai transfer 60 juta euro. Nilai tersebut jadi rekor transfer pemain termahal sepanjang sejarah Serbia.

Dengan biaya transfer yang amat sangat mahal, Jovic tentu diharapkan Madrid bisa memberikan banyak gol. Setidaknya, ia bisa mereplika penampilannya di Frankfurt di mana dalam dua musim eks pemain Benfica ini mencetak 36 gol dari 75 laga.

Namun yang terjadi sebaliknya. Jovic tumpul bersama Real Madrid. Dari 24 laga, ia hanya mencetak dua gol. Penampilan tak maksimalnya itu pun membuat Real Madrid musim ini kesulitan meraih kemenangan.

Tak sampai di situ, Jovic kembali berulah pada pertengahan Maret ini. Ketika dirinya harus menjalani isolasi mandiri setelah terdapat satu pemain basket Real Madrid terpapar virus corona, ia malah pulang ke Serbia untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun. Tentu keputusannya itu dikecam banyak pihak.

Dragoslav Stepanovic, mantan pelatih Frankfurt, cukup heran dengan tingkah laku Jovic setelah hijrah ke Real Madrid. Menurutnya, Jovic seolah tak menyadari bahwa dia sedang menghancurkan kariernya sendiri.

“Dia [Jovic] adalah satu-satunya orang yang melakukan segala cara untuk menghancurkan kariernya sendiri. Jovic seperti melawan dirinya sendiri,” papar Stepanovic pada Kurir.

“Dia cukup beruntung karena Adi Hutter (pelatihnya di Frankfurt) memberikan dia kesempatan di Eintracht dan menjadikannya sebagai transfer termahal dalam sejarah Serbia untuk hijrah ke Madrid. Tapi aku masih tak percaya apa yang dilakukan untuk dirinya itu.”

Stepanovic juga menilai kalau Jovic saat ini sedang daratan. Ia lupa bahwa dulu perjuangannya untuk mendapatkan karier profesional sangat sulit, meski ia tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Jovic.

“Aku membaca media di Serbia dan aku tahu bagaimana kehidupan masa lalunya, dia seorang anak yang tidur di mobil bersama ayahnya untuk menunggu pagi agar bisa naik kereta api. Pengorbanan luar biasa saat itu, tapi kemudian sekarang seperti ini. Aku tak tahun, Luka mungkin sedang tak memikirkan dirinya sendiri.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here