Jika Bukan Karena Fast Food, Eks Pemain MU Ini Bisa Jadi Pemain Kelas Dunia

0
120

Debatbola.com – Nama Anderson Luís de Abreu Oliveira alias Anderson memang dahulu pernah dikenal sebagai salah satu pemain Manchester United yang punya segudang potensi. Sayangnya, seiring waktu, karir pria yang kini berusia 33 tahun mulai meredup. Eks rekan setimnya pun membeberkan bahwa fast food menjadi faktor utama kemunduran karir Anderson.

Dari Pemain Potensial, Hingga Pensiun Dini

Fast food alias makanan cepat saji memang disukai oleh banyak kalangan. Tetapi, mengkonsumsi terlalu banyak fast food juga tidak baik untuk tubuh. Terlebih jika orang yang gemar menyantap fast food itu adalah seorang pesepakbola. Fast food bahkan bisa membuat karir seorang pesepakbola kian menurun.

Hal inilah yang dirasakan oleh mantan pemain Manchester United yang kini sudah pensiun, Anderson Luís de Abreu Oliveira, atau biasa disapa Anderson. Di awal-awal musim bersama Manchester United, Anderson terlihat enerjik dan punya banyak potensi. Namun seiring berjalannya waktu, karir pria asal Brazil itu kian menurun.

Anderson didatangkan Manchester United pada tahun 2007 silam dengan mahar sebesar 25 juta euro dari klub raksasa Portugal, Porto. Di beberapa musim pertama, Anderson bersinar, tetapi setelahnya, ia kerap dibuang ke klub lain sebagai pemain pinjaman. Terkini, ia memperkuat klub Turki, Adana Demirspor, sebelum akhirnya resmi gantung sepatu.

Mantan gelandang United yang telah memenangkan empat gelar Premier League untuk Setan Merah itu pensiun ketika usianya masih menginjak 31 tahun. Dengan demikian, Anderson termasuk ke dalam golongan pemain-pemain yang pensiun dini dari sepakbola. Kini, Anderson melanjutkan karirnya dengan menjadi salah satu staff di Adana Demirspor.

Kata Rafael Soal Hobi Buruk Anderson

Tentunya, ada banyak faktor yang mempengaruhi penurunan kualitas Anderson selama ia bermain, sampai akhirnya pensiun di usia yang terbilang masih cukup muda. Namun, menurut eks rekan setimnya, Rafael da Silva, ada satu penyebab utama. Seperti yang tadi telah disebutkan, penyebab utamanya adalah fast food alias makanan cepat saji.

Sama seperti Anderson, Rafael juga pernah mengabdikan dirinya untuk membela Manchester United. Jebolan asli akademi Setan Merah itu bergabung ke tim utama pada bulan Juli tahun 2008, atau setahun setelah kedatangan Anderson. Keduanya pun bermain bersama sebelum akhirnya sama-sama meninggalkan Old Trafford secara permanen pada tahun 2015.

Tujuh tahun bermain bersama sebagai rekan setim, Rafael tentu tahu betul karakter serta hobi Anderson. Melalui autobiografinya, Rafael pun membeberkan bahwa ada satu hobi buruk kompatriotnya itu, yakni gemar memakan fast food alias makanan cepat saji. Rafael juga menilai bahwa hobi buruk Anderson itu ikut mempengaruhi permainan eks rekan setimnya itu.

“Kami kadang bersama tim pelatih dan melewati layanan fast food di jalan raya, lalu Anderson bakal melompat sambil berteriak, ‘McDonald’s, McDonald’s’.” Kata Rafael, mengungkap kecanduan Anderson terhadap fast food, seperti dikutip via Mirror. “Dia seperti orang gila, tapi saya menyukainya.”

“Beri dia kesempatan bermain sepakbola, lalu dia cuma akan bermain dengan bebas. Terkadang, saat dia tampil bagus di beberapa laga beruntun, dia juga bisa bermain sama baiknya dengan para pemain lain di liga. Sayang, dia mengalami cedera serius, dan masalah makannya benar-benar sudah mulai mempengaruhinya.”

“Tak bisa dipungkiri bahwa performa terbaiknya akan datang ketika jadwal pertandingan sangat padat, karena saat itu, dia tidak bisa makan banyak. Saya akan mengatakan ini, jika Anderson benar-benar profesional, dia bisa jadi pemain terbaik. Yang saya katakan ini serius, tapi saya tak tahu apa dia serius menanggapinya karena dia adalah orang yang santai.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here