Hasil Investigasi Komdis PSSI Atas Kejadian Di Stasion GBLA, Terkesan Nanggung

0

Debatbola.com – Sejak beberapa hari yang lalu, tim Investigasi PSSI telah bergerak untuk mengusut kasus yang terjadi di Stadion GBLA. Pasalnya kejadian tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup parah di Stadion GBLA dan bahkan mengakibatkan korban Jiwa. Bahkan PSSI sampai melibatkan Komdis PSSI dalam proses investigasi itu.

Baru-baru ini terdengar kabar jika Komdis PSSI telah merampungkan proses investigasi tersebut. Beberapa fakta penyebab dan kronologi dari kejadian di Stadion GBLA pun akhirnya terungkap satu-persatu termasuk pihak yang terlibat. Komdis PSSI juga sudah mengungkapkan ke publik hasil dari investigasi yang dilakukan.

Hasil Investigasi Komdis PSSI

Pertandingan antara Persib dan Persebaya yang terlaksana pada tanggal 17 Juni lalu dibarengi dengan kejadian yang memilukan. Dua suporter Persib yang berasal dari kota Bandung dan Bogor dinyatakan meninggal akibat berdesakan. Hal tersebut bisa terjadi karena penonton yang memasuki stadion membludak dari jumlah yang telah ditentukan.

Demi mengusut kejadian tersebut, PSSI kemudian membentuk tim investigasi yang juga melibatkan Komdis. Pemeriksaan dilakukan pada Persib selaku tuan rumah, Panpel yang bertugas serta informasi yang tersebar di media sosial. Tim investigasi tersebut juga tengah menyelidiki adanya oknum yang membuat jumlah penonton membludak.

Kabarnya, proses investigasi tersebut sudah usai dengan beberapa fakta yang berhasil diungkapkan. Erwin Tobing selaku ketua dari Komdis PSSI yang bertugas menyampaikan hasil investigasi tersebut pada publik. Beberapa poin yang menjadi fokus utama akan ditindaklanjuti oleh Komdis PSSI.

Menurut Erwin Tobing, Panpel setempat sudah melaksanakan tugasnya dengan baik dan bahkan menyediakan langkah antisipasi untuk hal yang tak terduga. Namun ada beberapa kekurangan dari Panpel lokal yang bertugas saat itu salah satunya gagal mengurai kerumunan di pintu masuk V. Selain itu, Komdis juga menemukan adanya oknum yang menjual selebaran tiket yang berisi kode QR.

Adanya oknum yang menjual tiket palsu berisi kode QR membuat penonton membludak bahkan hingga 3 kali lipat dari yang ditentukan. Akibatnya penonton berdesakan karena sama-sama ingin segera masuk ke dalam stadion terutama di pintu V. Tidak mampunya Panpel mengurai kerumunan tersebut dinilai sebagai penyebab jatuhnya dua korban jiwa.

Setelah mendapatkan fakta-fakta terbaru dari kejadian tersebut, Komdis kemudian menjadwalkan sidang. Beberapa informasi penting yang diperoleh akan ditindaklanjuti dan ditentukan langkah selanjutnya. Namun jadwal dari sidang tersebut belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan.

Investigasi Yang Nanggung

Meskipun PSSI telah merampungkan proses investigasi dan menguak penyebab meninggalnya 2 suporter, publik masih belum puas. Pasalnya investigasi yang dilakukan terkesan nanggung dan bahkan menuai respon negatif. Bagaimana tidak, publik melihat ada keganjilan dari hasil investigasi yang dilakukan.

Berdasarkan hasil investigasi yang dipaparkan Erwin Tobing, PSSI lebih menonjolkan kelebihan dari panpel setempat. Bahkan poin yang dinilai merupakan kekurangan dari Panpel yang menjadi penyebab kejadian justru lebih sedikit. Seharusnya, tim investigasi hanya fokus pada poin-poin yang menjadi penyebab dari kejadian tersebut.

Keganjilan semakin terlihat setelah tidak ada tanda-tanda jika hasil investigasi tersebut menunjuk pihak yang bersalah. PSSI hanya menjanjikan sidang sebagai tindak lanjut dari permasalahan tersebut. Bahkan meskipun diketahui yang bersalah pun, kemungkinan tidak akan dijatuhi hukuman oleh Komdis PSSI.

Berbeda dengan PSSI, Indonesia Police Watch justru mendesak kepolisian Jabar untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan menentukan tersangka. IPW yang diketuai oleh Sugeng Teguh Santoso meminta pihak kepolisian untuk menahan penyelenggara Piala Presiden. Dalam hal ini tentu saja Ketum PSSI dan Dirut PT. LIB yang menjadi pihak penyelenggara.

Berdasarkan tuntutan IPW maka jelas yang menjadi tersangka adalah Mochamad Iriawan dan Akhmad Hadian Lukita. Sugeng beranggapan jika kelalaian dua petinggi itu yang membuat dua bobotoh yang berniat menonton pertandingan harus kehilangan nyawa. Bahkan IPW juga meminta kepolisian untuk menahan keduanya jika sudah ditemukan bukti yang cukup.

IPW bahkan membandingkan kericuhan di Stadion GBLA dengan salah satu konser yang berlangsung di Yogyakarta. Saat terjadi kericuhan di acara tersebut, pihak penyelenggara langsung ditetapkan sebagai tersangka. Namun hingga kini baik Mochamad Iriawan dan Akhmad Hadian Lukita masih melenggang bebas dan tidak ditetapkan sebagai tersangka.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: No !!!
Exit mobile version