Arema Kalah Dari Persebaya, Akademi MIlik Pelatih Persebaya Diteror

0
91

Debatbola.com – Arema FC menjadi tim yang memegang rekor tidak terkalahkan selama 23 laga terakhir. Hingga akhirnya Persebaya Surabaya berhasil mematahkan rekor tersebut dengan menang 1-0 atas Arema FC pada laga lanjutan Liga 1 Indonesia. Namun kekalahan Arema FC berbuntut panjang, karena ulah oknum supporter Arema FC yang meneror pelatih Persebaya Surabaya.

Oknum Supporter Baperan

Setelah laga usai antara Persebaya Surabaya dengan Arema FC, muncul beberapa oknum supporter baperan yang tidak terima bahwa tim kesayangannya kalah tipis. Supporter tersebut melakukan serangan personal kepada pelatih Persebaya Surabaya. Serangan tersebut menyasar ASIFA yang merupakan Aji Santoso International Football Academy. Semua orang tahu bahwa ASIFA adalah milik pelatih Persebaya Surabaya.

Padahal Aji Santoso sendiri merupakan warga asli Malang, dan di Malang juga akademi miliknya dibangun. Padahal ASIFA tidak ada kaitannya dengan pertandingan Persebaya Surabaya vs Arema FC. Tentu saja ini merupakan tindakan memalukan dari oknum supporter baperan milik Arema FC. Padahal sebagian besar supporter Arema FC adalah orang baik dan suportif.

Teror dilakukan pada malam hari dengan meneriakkan kata-kata yang tidak enak secara personal kepada Aji di dekat ASIFA. Kemudian pada pagi harinya terlihat banyak coretan pada property yang tentunya sangat merugikan. Mulai dari mobil, tembok, dan pagar ASIFA penuh dengan coretan kata-kata tidak pantas. Tentu ini mencoreng nama baik supporter Arema FC.

Konfirmasi Pelatih Persebaya

Pelatih Persebaya, Aji Santoso membenarkan kejadian yang dialaminya tersebut. Teror tersebut dilancarkan pada hari Rabu 23 Februari 2022 malam hari. Tentunya ini merupakan akibat dari kekalahan Arema FC terhadap Persebaya Surabaya. Ini adalah tindakan yang sangat tidak baik dan terbilang kekanak-kanakan. Supporter yang memiliki sifat dewasa tentunya tidak akan melakukan hal memalukan ini.

Aji Santoso menjelaskan bahwa setelah pertandingan, ada supporter yang datang ke akademi sepak bola miliknya (ASIFA) untuk membentangkan spanduk. Namun Aji Santoso masih bisa bersyukur dengan mengatakan alhamdulillah tidak terjadi pengerusakan. Semua coretan dilakukan menggunakan spidol saja. Pelatih Persebaya tersebut saat itu tidak sedang berada di lokasi karena masih berada di Bali.

Aji Santoso mendapatkan laporan tersebut dari sopirnya. Pelatih ini memang terlihat tegar dan mengatakan bisa menerimanya dengan mengatakan mungkin ada supporter seperti itu, namun jangan sampai ada perusakan lebih. Padahal hal tersebut sebenarnya sudah sangat merugikan, namun Aji Santoso masih bisa menerimanya. Hingga akhirnya kejadian ini menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Rivalitas Harusnya Hanya Terjadi Di Lapangan

Meskipun dirinya masih bisa menerima perlakuan tersebut, Aji Santoso sebagai manusia normal tetap tidak membenarkan peristiwa memalukan supporter Arema FC. Pelatih Persebaya Surabaya sangat menyayangkan terror yang dilakukan oknum supporter baperan. Terlebih kejadian tersebut sudah dilakukan diluar kendali, diluar lapangan sepakbola.

ASIFA sama sekali tidak ada kaitannya dengan rivalitas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Umumnya pertandingan sepak bola, proses rivalitas atau persaingan terjadi di lapangan hijau saja. Dengan dibuktikan oleh hasil akhir pertandingan. Kalau kalah ya harus menerima, dan kalau menang ya bersyukur. Setelah itu tidak ada persaingan dalam bentuk lainnya.

Sebenarnya Aji Santoso sendiri tidak asing dengan peristiwa peneroran seperti ini. Dulu pernah mengalami juga saat dirinya masih menjadi pemain Arema FC dan akhirnya pindah ke Persebaya Surabaya pada tahun 1995. 27 tahun sudah berlalu, namun ternyata tingkat akhlak dan mindset supporter baperan masih saja ada. Meskipun hanya sebagian kecil, namun ini sangat mencoreng nama baik dari Arema FC Sendiri.

Arema FC adalah tim yang hebat dan solid, patut dibanggakan oleh Indonesia karena memiliki klub yang berkualitas. Namun sangat disayangkan, nama Arema FC tercoreng dengan adanya supporter yang tidak bermoral. Ini menjadi PR bagi Arema FC untuk mendidik supporternya supaya lebih bersikap dewasa. Sebenarnya tidak hanya untuk Arema FC saja, namun untuk semua klub yang ada memang seharusnya mendidik supporternya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here