5 Alasan Sepakbola Olimpiade Kalah Pamor dengan Kompetisi Internasional Lain

0
232

Debatbola.com – Olimpiade patut disebut sebagai ajang olahraga terbesar dan paling dinanti oleh para penikmat olahraga dunia. Kendati demikian, jika berbicara soal cabang olahraga sepakbola, Olimpiade masih kalah pamor dengan turnamen-turnamen lain. Sepakbola Olimpiade kerap kali dicap kurang menarik dan lebih membosankan ketimbang turnamen internasional lainnya.

Contohnya pada tahun ini. Banyak pecinta sepakbola yang tak begitu antusias mengikuti sepakbola Olimpiade Tokyo 2020. Lalu, faktor apa saja yang membuat sepakbola Olimpiade, terutama di edisi tahun ini, kurang menarik bagi mayoritas pecinta sepakbola?

Berikut adalah lima alasan mengapa sepakbola Olimpiade sepi peminat:

1. Minim Negara Eropa

Jika berbicara perihal sepakbola, tak dapat dipungkiri bahwa Eropa memang sudah menjadi kiblat olahraga ini. Namun dalam gelaran Olimpiade ada aturan yang membatasi jumlah negara yang boleh berpartisipasi mewakili benua masing-masing. Hal inipun membuat sepakbola Olimpiade sepi dari negara peserta asal Eropa.

Minimnya negara Eropa di Olimpiade praktis membuat banyak pecinta si kulit bundar kurang berminat menyaksikan gelaran olahraga terbesar yang digelar setiap empat tahun sekali ini. Hal inipun membuat sepakbola Olimpiade kalah pamor dengan turnamen-turnamen lain seperti Euro dan World Cup yang punya peserta Eropa lebih banyak.

2. Peserta yang Terlalu Sedikit

Hal lain yang membuat sepakbola Olimpiade kalah pamor dari turnamen lain adalah jumlah peserta yang terbilang lebih sedikit. Sebagai informasi dari sbobet, tahun ini, hanya ada 16 peserta yang ikut serta dalam gelaran Olimpiade cabang olahraga sepakbola pria. Sedang di sektor sepakbola wanita, hanya ada 12 negara yang ikut menjadi peserta.

Jumlah peserta sebanyak ini tentu masih kalah jika dibandingkan dengan turnamen-turnamen sepakbola lain, seperti Euro dan World Cup. Di sektor pria, Euro 2020 dan World Cup 2018 masing-masing memiliki total 24 dan 32 negara. Sedang di sektor wanita, Women’s World Cup 2019 dan Women’s Euro 2017 punya peserta masing-masing 24 dan 16 negara.

3. Pembatasan Usia Pemain

Orang-orang menonton suatu turnamen sepakbola untuk melihat pemain-pemain tertentu Tetapi karena pembatasan usia pemain, para pecinta sepakbola terkadang tak bisa melihat pemain favoritnya tampil bersama timnas negaranya. Pada akhirnya, beberapa orang memilih tidak menonton turnamen ini.

Misalnya saja pada edisi Olimpiade tahun ini, di mana minim sekali dijumpai pemain-pemain senior. Dani Alves dan André-Pierre Gignac menjadi dua contoh pemain senior yang masih mendapat jatah berlaga di Olimpiade. Para peserta hanya diperkenankan memilih maksimal tiga pemain berusia di atas 23 tahun ke dalam skuadnya.

4. Kurangnya Penonton

Akibat kurangnya minat para pecinta sepakbola menyaksikan gelaran sepakbola Olimpiade, jumlah penonton otomatis menurun. Jika dibandingkan dengan turnamen-turnamen macam Euro ataupun World Cup, atmosfer stadion terasa lebih hambar. Penonton yang hadir di sepakbola Olimpiade biasanya tidak seheboh penonton yang hadir di Euro atau World Cup.

Ditambah dengan kondisi pandemi Covid-19, suasana tribun penonton di ajang Olimpiade tahun ini menjadi kian sepi. Mayoritas venue tidak mengizinkan satupun penonton hadir menyaksikan pertandingan secara langsung. Dengan begini, atmosfer penonton sepakbola Olimpiade yang sejatinya memang sudah sepi, kini menjadi semakin sepi.

5. Medali Dianggap Lebih Rendah dari Piala

Penghargaan apapun, baik trofi, medali ataupun piagam jelas akan terasa spesial. Tapi dalam dunia sepakbola, trofi sepertinya masih dianggap sebagai penghargaan terbaik. Pemenang suatu turnamen sepakbola umumnya dihadiahi trofi. Jadi wajar apabila para penggemar menganggap trofi lebih baik ketimbang medali.

Dalam momen perayaan gelar juara, dapat dilihat pula sedikit perbedaan antara perayaan gelar dengan medali, dan perayaan gelar dengan trofi. Ritual pengangkatan piala biasanya digelar secara meriah. Sementara ritual penyerahan medali terkesan digelar lebih sederhana dibanding ritual pengangkatan trofi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here