3 Alasan Utama Mengapa Negara-Negara Kuat Gugur Lebih Awal di Sepakbola Olimpiade Tokyo

0
177

Debatbola.com – Selain turnamen Euro dan Piala Dunia, Olimpiade juga menjadi salah satu ajang yang dinanti oleh beberapa penikmat sepakbola. Sayangnya, pada Olimpiade Tokyo edisi tahun 2020 ini, beberapa kekuatan sepakbola tradisional justru tumbang lebih awal. Mengapa negara-negara raksasa itu harus angkat koper lebih dahulu dibanding beberapa negara non-unggulan lain?

Fenomena Gugurnya Para Negara Kuat

Sebagai perhelatan olahraga terbesar, Olimpiade tentu menjadi gelaran yang dinanti-nanti oleh beberapa orang, termasuk para penggemar sepakbola. Tahun ini, ada sekitar 16 negara yang berlaga di cabang sepakbola pria. Sementara di sektor wanita, terdapat 12 negara yang ikut serta dalam ajang empat tahunan ini.

Dari sekian negara yang ikut serta dalam ajang Olimpiade tahun ini, tentu ada beberapa nama negara yang menjadi kekuatan tradisional sepakbola. Sebut saja Prancis, Jerman, Spanyol, Argentina, Brazil, Belanda dan Amerika Serikat. Sayangnya, dari sekian banyak negara kuat, hanya beberapa yang sanggup melaju sampai ke babak semifinal.

Misalnya saja, di sektor sepakbola pria, tiga negara kuat, Argentina, Prancis dan Jerman kompak gugur di fase grup setelah hanya bisa finish di urutan ke-3 klasemen akhir. Hal yang sama juga terjadi di sektor sepakbola wanita. Tim-tim unggulan macam Britania Raya, Belanda dan Brazil justru harus pulang di awal fase knockout.

Gugurnya negara-negara kekuatan tradisional di fase-fase awal sepakbola Olimpiade tentu membuat kompetisi lebih seru. Akan tetapi, hal ini juga membuat banyak pihak menanyakan satu hal. Apa yang membuat negara-negara raksasa itu bertumbangan lebih awal dibanding negara-negara yang bahkan tidak menyandang status sebagai tim unggulan?

Performa yang Sedang Menurun

Jika diperhatikan, media inter303 memberitakan bahwa setidaknya ada dua penyebab utama mengapa negara-negara kuat sepakbola bisa berguguran lebih awal dibanding negara-negara lain. Penyebab yang pertama adalah sejumlah negara kuat yang sudah gugur memang performanya tengah menurun. Lalu alasan ke-2, negara-negara itu bisa jadi kurang serius bermain di Olimpiade.

Prancis dan Jerman bisa menjadi contoh tepat untuk penyebab yang pertama, yakni penurunan performa sejumlah negara kuat. Lihat saja, skuad Prancis dan Jerman di Olimpiade Tokyo 2020. Prancis, tak punya nama-nama macam Antoine Griezmann atau Kylian Mbappé, sedang Jerman tak punya nama-nama macam Timo Werner dan yang lain.

Penurunan performa tim senior juga sedikit banyak telah memberikan pengaruh terhadap performa tim U-23 Prancis dan Jerman yang berlaga di Olimpiade. Seperti yang kita tahu, Prancis dan Jerman hanya bisa melaju sampai babak 16 besar di Euro 2020 lalu. Hal itu juga bisa jadi membuat tim U-23 takut meraih pencapaian buruk layaknya para seniornya.

Kurang Serius

Penyebab lain mengapa beberapa negara kuat berguguran lebih awal mungkin adalah karena mereka kurang serius bermain di ajang Olimpiade. Argentina adalah contoh yang sangat tepat. Sebelum gelaran Olimpiade, mereka baru saja menjuarai Copa América, dan banyak orang memprediksi Argentina akan melaju lebih jauh.

Sayang, Argentina terkesan kurang serius berlaga di Olimpiade Tokyo tahun ini, sehingga perjuangan mereka pun harus kandas di fase-fase awal. Permainan La Albiceleste muda ternyata tidak sesolid permainan para seniornya. Hasilnya, mereka pun sudah harus angkat kaki selepas fase grup.

Kalah Semangat Dibanding Negara Non-Unggulan

Di sektor wanita, dua faktor di atas sepertinya tak berlaku karena nampaknya ada faktor ke-3. Faktor ke-3 itu adalah munculnya kekuatan-kekuatan baru dalam sepakbola wanita. Misalnya saja Australia. Negara yang tak diunggulkan ini justru berhasil melaju ke semifinal usai taklukkan Britania Raya yang di atas kertas lebih dijagokan ketimbang mereka.

Selain itu, hampir setiap laga yang berjalan di sepakbola wanita berlangsung begitu sengit sehingga pada akhirnya, negara yang berjuang lebih kuatlah yang akan menang. Belanda dan Brazil contohnya. Keduanya gugur bukan karena keduanya tampil buruk, tetapi karena lawan mereka yakni Amerika Serikat dan Kanada berjuang lebih keras dibanding mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here